Mati Klinis
- Henti detak jantung
- Henti napas
- Tidak ditemukan denyut nadi
- Bersifat reversibel, kesempatan 4 - 6 menit untuk RJP sebelum terjadi kerusakan otak
Mati Biologis / Brain Death
- Kematian sel, utamanya sel otak
- Pupil dilatasi bilateral
- Refleks pupil dan kornea negatif
- Bersifat irreversibel
- Berlangsung 8 - 10 menit setelah terjadi henti jantung
- Jejak gelombang otak datar
- Hasil rekam jantung datar
Tanda Pasti Kematian
-
1. Lebam Mayat / Livor Mortis:
- Pengendapan eritrosit mengikuti gravitasi
- Eritrosit akan menempati bagian terbawah badan yang bebas dari tekanan
- Posisi lebam mayat tergantung postur tubuh saat kematian
-
2. Kaku Mayat / Rigor Mortis:
- Ikatan aktin dan myosin yang menetap
- Terjadi kekakuan ketika pemeriksa menggerakkan persendian jenazah
- 3. Penurunan Suhu Tubuh / Algor Mortis
-
4. Pembusukan:
- Pembusukan akan lebih mudah terjadi pada kondisi udara terbuka, suhu yang hangat, dan kelembapan tinggi.
- Kematian akibat penyakit infeksi juga akan menyebabkan pembusukan yang lebih cepat.
- 24 jam post-mortem, dimulai dengan warna kehijauan pada caecum.
- Akibat proses pembusukan: rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak, lidah terjulur.
Perkiraan Waktu Kematian (Post-Mortem Interval / PMI)
-
Lebam Mayat / Livor Mortis:
- Jika lebam masih hilang dengan penekanan, artinya lebam belum menetap.
-
Kaku Mayat / Rigor Mortis:
- Muncul mulai 2 jam post-mortem.
-
Penurunan Suhu Badan / Algor Mortis:
- PMI = (37°C - Suhu Rectal) + 3
-
Derajat Pembusukan:
- Fresh: 1 - 2 jam post-mortem
- Bloating: Munculnya belatung / larva lalat di hari ke 2 - 6 post-mortem; perut membesar karena terbentuknya gas.
- Active decay: Belatung sudah tidak ada.
- Post decay: Serangga/kecoa mulai bermunculan.
- Skeletal / Diagenesis: Tinggal sisa tulang belulang.
- Isi lambung
-
Aktivitas Serangga (Entomologi Forensik):
- Serangga necrophagus
- Telur lalat: hari pertama post-mortem
- Larva: hari ke 2 - 6 post-mortem
- Tahap pupa: 7 - 10 hari post-mortem
- Lalat dewasa keluar dari pupa: 12 - 18 hari post-mortem
- Tanda sekitar tempat kejadian
Kekakuan Jenazah Selain Kaku Mayat (Rigor Mortis)
- 1. Cadaveric Spasm: Kekakuan otot pada jenazah yang menetap, terjadi karena penggunaan otot secara berlebihan sesaat sebelum kematian dan berhubungan dengan emosi yang hebat sesaat sebelum kematian.
- 2. Heat Stiffening: Pada kasus jenazah yang terbakar, panas menyebabkan koagulasi protein sehingga serabut otot memendek, terjadi fleksi siku (pugilistic attitude).
- 3. Cold Stiffening: Pada kasus jenazah yang tubuhnya terpapar suhu dingin ekstrim, terjadi pembekuan cairan sinovial. Bila sendi digerakkan, terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.
Jenazah Kondisi Khusus
- Mumifikasi: Akibat proses pengeringan (tubuh dibuat mengalami dehidrasi), jaringan berubah menjadi keras, kering, cokelat gelap, berkeriput, dan tidak membusuk.
- Adipocere: Kelembapan dan suhu panas mempermudah terbentuknya adipocere; ini adalah bahan berwarna keputihan, lunak, dan berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh post-mortem.
Social Media