1. Intramuscular (IM)
-
Rekomendasi Lokasi Injeksi untuk Anak < 12 Bulan: Otot Vastus Lateralis
- Posisikan fleksi pada panggul dan lutut agar vastus lateralis relaksasi.
- Gambar garis imajiner pada area femoral, lurus di tengah tepat melewati patella; dengan garis ini area femur terbagi menjadi anterolateral dan anteromedial.
- Lokasi injeksi adalah pada anterolateral femoral bagian tengah (mid-anterolateral).
- Imunisasi yang pemberiannya melalui IM pada vastus lateralis adalah Pentabio (Hepatitis B, DTP, Hib).
- Pentabio tersedia dalam 2 sediaan, yaitu 1 vial 0,5 ml dan 1 vial 2,5 ml.
- Untuk sediaan vial 2,5 ml dapat digunakan untuk 5 anak (1 anak = 0,5 cc).
Pentabio vial 2,5 ml (1 vial untuk 5 anak)
Pentabio vial 0,5 ml (1 vial untuk 1 anak)
Hepatitis B dalam prefilled syringe (HepB 0 diberikan sebelum usia 24 jam)
Imunisasi IPV, tersedia dalam vial 2,5 cc (1 vial bisa untuk 5 anak)
Posisi anak (*cuddle position*)
-
Rekomendasi Lokasi Injeksi untuk Anak >= 12 Bulan: Otot Deltoid
- Cari titik pertengahan dari humerus, dengan cara mengukur dari acromion ke olecranon.
- Buat garis imajiner dari pertengahan humerus ke acromion.
- Ambil titik tengah dari garis imajiner tersebut sebagai lokasi injeksi pada deltoid.
- Pada wanita usia subur (WUS), pemberian TT dilakukan di deltoid kiri secara IM.
2. Subcutan (SC)
- Dapat dilakukan pada pertengahan musculus deltoid maupun mid-anterolateral regio femur (musculus vastus lateralis), dengan sudut penusukan 45 derajat (berbeda dengan IM yang sudutnya 90 derajat).
- Pemberian secara SC di deltoid kiri pada imunisasi MR (Measles, Rubella) dan MMR (Mumps, Measles, Rubella).
- Injeksi insulin juga diberikan secara subcutan, namun dengan jarum yang lebih pendek (jarum pen insulin), sehingga sudutnya bisa 90 derajat.
MR (vial + ampul pelarut 0,5 cc)
3. Intramuscular **Khusus**
- Imunisasi dengan injeksi IM direkomendasikan di musculus deltoid atau musculus vastus lateralis.
- Tidak direkomendasikan pemberian di upper lateral quadrant pada dorsal gluteus karena dapat menyebabkan induksi respon imun yang kurang optimal.
- Area injeksi upper lateral quadrant pada dorsal gluteus biasanya digunakan untuk pemberian HTIG (Human Tetanus Immunoglobulin) dan ATS (Anti Tetanus Serum).
- Injeksi kanamycin maupun ceftriaxone pada terapi gonore: kanamycin tersedia 1 vial serbuk 2 gram, larutkan dalam 6 cc water for injection / aquadest, kemudian ambil menggunakan 1 spuit 3 cc (untuk injeksi gluteus kanan), dan ambil spuit baru 3 cc (untuk injeksi gluteus kiri).
- KB suntik.
- Perlu diingat bahwa pemberian HTIG dan ATS harus dilakukan skin test terlebih dahulu (melalui injeksi IC / intracutan / intradermal).
4. Intradermal / Intracutan (IC)
-
Digunakan pada prosedur:
- Mantoux test / injeksi tuberculin (volar antebrachii), menggunakan vial Tuberculine PPD RT 23 dengan dosis 0,1 cc (PPD = Purified Protein Derivative).
- Skin test alergi (volar antebrachii).
- Imunisasi BCG (bagian deltoid kanan), 1 ampul BCG dilarutkan dalam 4 cc pelarut, dapat digunakan untuk 80 anak (1 anak = 0,05 cc).
- Setelah injeksi intracutan, biarkan saja, tidak boleh ditekan, digaruk, maupun dibilas.
BCG lama (1 ampul untuk 80 anak, pelarut 4 cc)
BCG baru (1 vial untuk 20 anak, pelarut 1 cc)
5. Intravena (IV)
-
Digunakan pada prosedur:
- Phlebotomy / sampling darah untuk pemeriksaan lab (area fossa cubiti).
- Pemberian terapi farmakologi secara parenteral (intravena): ketorolac, ondansetron, ranitidin, omeprazole, hyoscine (gitas), paracetamol, metamizol (norages), asam traneksamat, dll.
- Pemasangan kateter infus / abbocath.
Jadwal Vaksin Anak IDAI
Sudut Injeksi Berbagai Metode
Feedback Untuk Mahasiswa
- Mahasiswa tidak tahu kepanjangan dari nama-nama vaksinnya (DPT, BCG, MR).
- Mahasiswa tidak tahu fungsi vaksin untuk mencegah penyakit apa (bingung MR untuk apa, Rotavirus untuk apa, PCV untuk apa, IPV untuk apa).
- Dosis yang diucapkan mahasiswa tidak sesuai dengan yang masuk ke dalam spuit (misalkan mengatakan dosis BCG 0,05 cc tapi yang masuk ke spuit 0,5 cc sehingga overdosis).
- Mahasiswa masih menggunakan alkohol swab untuk vaksin hidup (seharusnya air hangat).
- Mahasiswa ada yang tidak hafal lokasi dan sudut / teknik penyuntikan masing-masing vaksin.
- Mahasiswa ada yang tidak hafal jadwal vaksin dan bingung harus memberikan vaksin apa saja.
- Mahasiswa ada yang tidak tahu sediaan vaksin (serbuk: BCG, MR).
- Mahasiswa menggunakan jarum kecil untuk intramuskular (jarum kecil 26G atau 27G tidak akan sampai ke muskular meskipun sudutnya sudah 90 derajat).
- Mahasiswa tidak tahu berapa dosis (cc) untuk tuberculin test.
- Mahasiswa tidak tahu kapan harus tes tuberkulin (kasus ibu positif TB).
- Mahasiswa tidak tahu Mantoux test yang positif hasil indurasinya berapa milimeter (mm).
Catatan Tambahan
- Desinfeksi khusus untuk imunisasi menggunakan bola kapas yang direndam air hangat.
- Selain imunisasi, desinfeksi bisa menggunakan alkohol swab.
- Imunisasi BCG idealnya sebelum 1 bulan; jika usia sudah 3 bulan atau lebih, perlu tuberkulin terlebih dahulu (jika positif, hitung skor TB anak; jika skor >= 6, berikan pengobatan TB. Jika hasil tuberkulin negatif, bisa imunisasi BCG).
- OPV (0,1 cc oral / 2 tetes): bulan 0, 2, 3, 4.
- IPV (0,5 cc IM): bulan ke-4 dan ke-9.
- PCV (0,5 cc IM): bulan 2, 4, 6 (IDAI) atau bulan 2, 3, 12 (Kemenkes).
- Rotavirus (oral: RotaTeq 2 cc, Rotarix 1,5 cc): bulan 2, 4, 6 (IDAI), tidak ada *catch-up*.
- BCG dan OPV tidak boleh diberikan bersamaan, beri jarak 2 minggu.
- Vaksin hidup: lewat oral (polio dan rotavirus) dan bahu/deltoid (BCG dan MR/MMR).
- Vaksin bentuk serbuk: lewat bahu (BCG dan MR/MMR).
Social Media